Postingan pertama di tahun 2013:
*Hening*
Jumat, 18 Januari 2013
Selasa, 25 Desember 2012
Ed Gein: Inspirasi Para Psikopat Dunia Fiksi
![]() |
Ya. Sedikit menelisik ke abad dua puluh, tepatnya tahun 1945-an. Kalo kita hidup di Amerika, tepatnya di Plainfield, Winconsin. Mungkin di sana sedang gempar-gemparnya dengan orang yang satu ini. Bagaimana enggak, lelaki dengan nama lengkap Edward Theodore Gein ini telah membunuh belasan wanita dan memutilasinya, lalu potongan-potongan tubuhnya di simpan di dalam rumahnya. Sebagian dari mayatnya merupakan mayat yang sudah meninggal terlebih dahulu. Jadi dalam artian, Ed -nama kecilnya- hanya menculik mayat itu ketika sudah dimakamkan, lalu dicuri beberapa jam kemudian dan dimutilasi. Tapi ada satu mayat yang dibunuhnya dengan pistol/senapan tipe 22 caliber. Namanya Bernice Worden. Ia ditemukan tergantung dengan posisi badan terbalik (kaki di kepala, kepala di kaki), bagian kelamin hingga dadanya telah disayat, dan kepalanya hilang (kemungkinan besar kepala mayat-mayat Ed (termasuk Bernice Worden) telah dijadikan asesoris. Posisi seperti ini seperti posisi hewan qurban yang hendak dikuliti.
GILA? Ya. Mungkin sebagian dari kalian yang baca ini, bakalan bilang ini gila. Gimana enggak, abad duapuluh ternyata udah ada orang yang membunuh dengan cara sadis seperti ini. Sebelumnya, alasan mengapa Ed membunuh dan memutilasi, karena ia selalu hidup kesepian ketika keluarganya meninggal satu per satu. Dan mengapa ia membunuh dan memutilasi wanita, bukannya lelaki? Ini dia. Banyak orang mengatakan kalo Ed merupakan tipe pecandu seks dengan mayat (istilah Necrophillia). Dengan mayat? Kegilaan lainnya. Ga bisa dipungkiri, Ed sudah hidup sebatang kara dan ia belum pernah merasakan yang namanya seks secara langsung. Alasan lain menyebutkan bahwa ia membunuh karena Ed sangat mencintai mendiang ibunya yang meninggal akibat strooke. Ia membunuh dan memutilasi mayatnya. Lalu mayat itu diambil wajahnya dan dijadikan hiasan di rumahnya. Mungkin dengan wajah-wajah itu, Ed bisa selalu mengenang ibunya. Tak ada yang tahu, sampai ia ditangkap pada tahun 1957.
Lalu. Apa kaitan kehidupan bejad bin bengis Ed Gein dengan para tokoh psikopat dunia fiksi? Tentu ada. Tahu LeatherFace dalam Texas Chainsaw Massacre dengan gergaji mesinnya? Atau Norman Bates dalam Psycho garapan Alfred Hitchcock? Mungkin Jame Gumb dalam film The Silence of The Lamb? Ya semua tokoh antagonis itu merupakan penjelmaan dari diri Ed Gein yang diwujudkan dalam dunia fiksi.
1. Leatherface

Tokoh psikopat/maniak dalam serial Texas Chainsaw Massacre ini terkenal karena ia selalu menggunakan gergaji mesin dalam modus operandinya. Setelah dibunuh, satu per satu korbannya diambil wajahnya lalu digunakan sebagai topeng. Itu semua hampir mirip dengan Ed Gein. Ed Gein selalu mengambil wajah para korbannya setelah dibunuh. Fucking Disgusting!!
Tak perlu waktu lama untuk memutar kembali bagaimana Ed Gein melakukan aksi bengisnya. Tahun 1960 (tiga tahun setelah Ed Gein dipenjara), Alfred Hitchcock mencoba peruntungannya dengan karyanya yang fenomenal: Psycho. Tokoh Norman Bates digadang-gadang adalah tokoh fiksi yang terinspirasi dari Ed Gein sendiri. Norman Bates mempunyai kesamaan dengan Ed Gein, yaitu sama-sama mencintai ibunya dan membunuh demi mengenang ibu tercinta. Film Psycho sendiri diangkat dari novel yang berjudul sama garapan Robert Bloch
3. Jame Gumb/Buffalo Bill
Karakter dari film The Silence of The Lambs yang terakhir ini merupakan karakter dengan tokoh inspirasi pembunuh paling banyak. Selain terinspirasi Ed Gein, Jame Gumb ternyata juga terinspirasi dari lima tokoh pembunuh lainnya.
1. Ted Bundy, sudah membunuh lebih dari 20 orang di Utah, Washington, Oregon dan Corolado. Sempat kabur ketika dipenjara selama beberapa tahun.
2. Jerry Brudos, terkeal karena selalu mendandani para korbannya setelah dibunuh. Tak diketahui jumlah korbannya
3. Gary M.Heidnik, memperkosa enam perempuan dalam rentang waktu satu tahun
4. Edmund Kemper, pembunuh yang pertama kali membunuh keluarganya sendiri. Masih hidup sampai saat ini
5.Gary Ridgway, sudah membunuh hampir limapuluh orang, semuanya perempuan. Masih hidup sampai saat ini
Tokoh fiksi ternyata bukan sembarang hasil pemikiran manusia sendiri. Tokoh-tokoh itu muncul karena suatu kejadian nyata dan dikembangkan lagi menjadi lebih kompleks.
Kalimat terakhir : INI BUKAN CURHAT, HANYA SEKADAR BERCERITA
Wassalam!
soember: wikipedia.com
Sabtu, 15 Desember 2012
Selasa, 04 Desember 2012
Haji Syiah (Koran Tempo, 8 April 2012)
HAJI SYIAH
Ben Sohib
KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan
satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi
sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di
balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak
tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Sebab, meski sesekali Sang Haji
menyampaikan khotbah dan membahas hikmah, majelis itu lebih sering menjadi
ajang bincang santai tentang banyak hal, tempat orang bertukar kata dan canda
hingga larut malam. Tapi, sampai akhir kisah ini nanti, kegiatan itu akan tetap
disebut demikian semata-mata demi memudahkan penceritaan.
Siapa saja yang sempat berjalan menyusuri kampung
kami pada suatu siang yang cerah akan segera mafhum permukiman ini benar-benar
dipenuhi haji. Begitu menyelesaikan langkahnya yang pertama, kemungkinan besar
ia akan bertemu seorang haji yang sedang duduk di teras rumahnya, disusul
dengan haji yang sedang berdiri membetulkan gulungan sarungnya pada langkah
kedua, dan haji yang sedang berjalan sambil membuka peci putih dan
menggaruk-garuk kepalanya pada langkah ketiga. Jika sedang beruntung, pada
langkahnya yang keempat atau kelima, ia akan memergoki seorang haji sedang
mencubit pinggul perempuan penjual gado-gado di dekat tikungan.
Menjelang senja, para haji itu akan terlihat
berjalan––baik sendiri-sendiri maupun berombongan––menuju Musala Assalam untuk
salat Magrib berjamaah. Seusai salat dan berdoa barang lima atau sepuluh menit,
mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Salah seorang dari mereka dipanggil
dengan sebutan Haji Syiah. Setelah salat Isya dan makan malam, para haji itu
akan menguap berkali-kali sebelum akhirnya jatuh tertidur dan mendengkur dalam
balutan sarungnya. Kecuali Haji Syiah.
Haji Syiah akan duduk di balai-balai di teras
rumahnya, menyambut tamu-tamu yang hampir setiap malam bertandang meramaikan
majelis taklimnya, termasuk Faruk dan Ketel, sepasang sahabat yang selalu
datang dalam keadaan mabuk. Haji Syiah tak pernah membeda-bedakan tamunya, yang
mabuk dan yang sadar diperlakukan serupa: kopi hitam sama dituangkan, keripik
singkong dan kacang kulit sama diangsurkan, rokok kretek sama disodorkan.
Alhasil, majelis taklim yang dihadiri belasan anak muda itu selalu berlangsung
hangat.
Demikianlah, berita bergabungnya Faruk dan Ketel
dalam majelis taklim di rumah Haji Syiah dengan lekas tersiar ke banyak telinga
di kampung ini, termasuk ke telinga Haji Jamil, seorang haji yang paling
disegani. Tak membuang tempo, sehari setelah mendengar berita itu, Haji Jamil
sudah menegur Haji Syiah. Bakda salat Magrib dan menuntaskan doa di Musala
Assalam, di hadapan jamaah musala, ia angkat bicara.
“Kagak pantes, Ji, orang mabok ente kumpulin di
rumah ente.”
“Ane bukan ngumpulin orang mabok, tapi ane kagak
bakalan nolak siape aje yang bertamu ke rumah ane.Orang mabok juga ane terime.
Mabok tuh urusan die sama Allah, yang penting kagak ganggu tetangge. Kalau
maboknye brengsek, jangan kate di pekarangan rumah ane, di mane aje di pojok
kampung ini bakalan ane hajar!” jawab Haji Syiah sambil mengacungkan tinjunya
yang sebesar kepalan tangan anak kecil. Sama sekali tak menakutkan.
Meski sudah dibekap, mulut Haji Sakur tetap
meletupkan suara tawa tertahan. Demikian pula mulut Haji Sahrudin, mulut Haji
Rozak, dan mulut sekian haji lainnya. Haji Munip yang paling parah, belum
sempat membekap mulut, suara tawanya sudah terlepas begitu saja. Siapa yang tak
ingin tertawa melihat Haji Syiah sesumbar hendak menghajar pemuda mabuk?
Sudah masyhur cerita Haji Syiah pernah terjatuh
gara-gara diterpa angin dari sebuah sepeda motor bebek yang melaju kencang.
Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan di depan rumahnya ketika sepeda
motor bebek yang dikemudikan seorang remaja berandal melaju kencang. Angin yang
ditimbulkan dari kencangnya laju sepeda motor itu membuat tubuh tipis Haji
Syiah terputar 180 derajat, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terduduk menghadap
rumahnya. Haji Syiah cepat berdiri. Lalu, sambil tangan kirinya berkacak
pinggang dan tangan kanannya mengacungkan tinju ke arah mana sepeda motor tadi
melesat, Haji Syiah berteriak, “Bagus ente kagak nyerempet ane. Kalau sampe
nyerempet, ane lipet ente jadi tiga!”
Mau melipat tubuh pengendara sepeda motor
berandal jadi tiga? Diterpa anginnya saja jatuh terduduk, apalagi diserempet.
Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran ketua RT. Maka ia segera mengerahkan
warga membuat polisi tidur dari campuran pasir dan semen, agar kejadian serupa
tak terulang. Itulah cerita yang dapat menjelaskan mengapa ada polisi tidur
melintang tepat di depan rumah Haji Syiah hingga sekarang. Entah siapa yang
pertama kali mengarang riwayat itu.Tentu saja tak seorang pun memercayai
peristiwa itu benar-benar pernah terjadi, bagaimana pun kurusnya Haji
Syiah.Namun yang jelas, kisah itu tersebar dan telah menggaungkan gelak tawa ke
seluruh kampung.
Maka tak mengherankan jika malam itu Haji Sakur,
Haji Sahrudin, Haji Rozak, dan Haji Munip (dia yang paling parah) gagal menahan
tawa melihat Haji Syiah mengacungkan tinju dan mengancam hendak menghajar
orang. Mereka teringat kisah Haji Syiah jatuh terduduk.
.
SELAMA lebih dari setahun Haji
Syiah menerima Faruk dan Ketel di rumahnya, tak ada warga kampung ini yang
imannya berkurang.Kehidupan berjalan seperti biasa, tidak ada yang kurang,
tidak ada yang lebih. Dengan kata lain, selain Haji Jamil, tak ada warga yang
menganggap perbuatan Haji Syiah itu tidak pantas. Justru, warga merasa senang.Sebab,
sejak bergabung dalam majelis taklim Haji Syiah, Faruk dan Ketel tak pernah
lagi membuat onar di kampung saat mereka mabuk.
Sebelumnya, di antara sekian banyak pemabuk di
kampung ini, Faruk dan Ketel yang dikenal paling sering membuat perkara.Mereka
tersohor sebagai peminum yang pantang pulang sebelum tumbang.Hampir setiap
malam mereka membeli miras curah di Pisangan Lama, di belakang Stasiun
Jatinegara.Konon, berdua mereka biasa menghabiskan sepuluh liter setiap
malamnya. Pada satu liter pertama, mereka masih berbicara dengan “ane” dan
“ente”, seperti biasa. Pada liter kedua, mereka berbincang-bincang dengan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan menggunakan “saya”dan “anda”. Pada
liter ketiga, mereka berdebat hebat dalam bahasa Inggris, meski hanya setan dan
mereka berdua sendiri yang paham artinya.Pada liter keempat dan seterusnya,
mereka mulai berteriak-teriak keliling kampung.
Saat berteriak-teriak di tengah malam buta itulah,
Haji Syiah yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya, keluar menyongsong
mereka.Ia menggulung sarungnya tinggi-tinggi, kemejanya yang tak dikancingkan
memperlihatkan tonjolan tulang iga. Ia tak sempat memakai peci putihnya,
membuat kepalanya yang hanya ditumbuhi sejumput uban itu berkilap-kilap ditimpa
cahaya bulan.
“Ente berani besuare sekali lagi, ane putusin
tenggorokan ente!”seru Haji Syiah.
Ia memasang kuda-kuda siap menyerang, kedua lutut
kakinya agak ditekuk, tangan kanannya menadah seperti orang meminta sesuatu,
tangan kirinya seperti hendak menopang kepala bagian belakang. Tak ada orang
yang pernah mendengar Haji Syiah pandai bermain silat. Tapi, bahwa konon ia
menguasai ilmu pedang ghoib, amalan yang sanggup merobohkan lawan dari
jarak jauh, sempat sekian lama setengah dipercaya penduduk kampung kami––meski tak
jelas siapa yang pertama kali merawikan kabar ini. Namun, kepercayaan yang
hanya setengah itu pun rontok sama sekali saat kisah olok-olok tentang Haji
Syiah jatuh terduduk akibat diterpa angin dari sebuah sepeda motor bebek yang
melaju kencang, tersiar ke seantero kampung.
Meski begitu, melihat Haji Syiah dalam posisi siap
menyerang disertai ancaman hendak memutus tenggorokan mereka, Faruk dan Ketel
segera bereaksi.Mereka mengambil posisi siap tarung. Tapi, entah karena
pengaruh alkohol atau karena belajar pada guru silat yang salah, kuda-kuda
mereka terlihat aneh: kedua belah kaki dipentangkan lebar-lebar, kedua tangan
diacungkan lurus ke depan.
Urusan kuda-kuda boleh menggelikan, tapi keadaan
saat itu tetap saja menegangkan. Dalam keadaan mabuk berat, bukankah sangat
mungkin seseorang akan melakukan hal-hal yang tak terduga? Benar saja! Faruk
terlihat mulai meraba belakang pinggangnya, seperti mencari-cari
sesuatu.Sebilah pisau?Sementara sahabatnya, Ketel, tetap dalam posisi semula.
Tampaknya ia sedang berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya. Haji Syiah
kian waspada.
Tak mau ambil risiko, Haji Syiah mulai mengeluarkan
ilmu pedang ghoib, mulutnya komat-kamit melafalkan doa. Diyakini,
setelah doa itu dibaca tiga kali, lawan akan ambruk dan bertekuk lutut hanya
dengan meniup mukanya. Maka, tak membuang waktu, setelah selesai membacanya
tiga kali, Haji Syiah langsung meniup ke arah wajah kedua begundal itu dengan
keras. Saat itulah gigi palsu Haji Syiah terlepas dari mulutnya. Gigi itu
melayang dan jatuh di dekat kaki lawan-lawannya.Hening sejenak, malam seperti
ikut menahan napas.
Faruk dan Ketel saling berpandangan. Tiba-tiba
kedua pria mabuk itu tertawa hingga terbungkuk-bungkuk. Mereka
terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka.Faruk dan Ketel terus tertawa,
makin lama makin tergelak, dan perut mereka menjadi kaku.Akhirnya, masih sambil
terpingkal, mereka terjatuh dengan lutut tertekuk di hadapan Haji Syiah.
Faruk dan Ketel menciumi tangan Haji Syiah. Dengan
susah payah mereka berusaha meminta ampun, baru setengah kata berhasil
diucapkan, yang setengahnya lagi tertelan oleh tawa mereka, air mata mereka
berlinangan. Untunglah, setelah Haji Syiah mengusap kepala mereka, tawa kedua
pemabuk itu reda. Dan mereka terhindar dari kram perut yang dapat membahayakan
jiwa.
Sejak kejadian itu, Faruk dan Ketel insyaf, tak
pernah lagi membuat onar di kampung, meski masih tetap menghabiskan sepuluh
liter miras curah setiap malamnya. Dan mereka menjadi anggota majelis taklim
Haji Syiah yang paling setia. Bahkan, kedua pemabuk itu menjadi murid––jika
bisa disebut demikian––kesayangan Haji Syiah.
Pasangan biang kerok Faruk dan Ketel yang berhenti
membuat onar dan menjadi murid kesayangan Haji Syiah adalah fakta. Tapi, cerita
tentang urut-urutan kejadian yang menjadi musabab berubahnya kedua pengacau
itu––terutama pada bagian kuda-kuda yang ganjil dan gigi palsu yang
terlepas––tak bisa dibuktikan kebenarannya mengingat kisah itu dirangkai
berdasarkan penuturan Ucup Bodong, penjual kue pancong yang pada malam terjadinya
peristiwa itu baru saja menutup warungnya. Ia mengaku mengintip seluruh
kejadian itu dari balik warungnya. Faruk dan Ketel sendiri memilih bungkam
setiap kali ditanya soal itu.Sementara kepada Haji Syiah, tentu tak ada orang
yang sampai hati meminta kejelasan.
.
HAJI Syiah berusia enam puluhan
tahun. Nama aslinya Rohili.Ia dipanggil Haji Syiah bukan karena menganut mazhab
ini. Tata cara ibadahnya tak pernah terlihat berbeda dari warga kampung
lainnya. Kemungkinan terbesar, itu gara-gara ia memasang poster bergambar
Ayatullah Khomeini di dinding ruang tamunya, bersebelahan dengan foto Habib Ali
Kwitang. Konon, ketika ia baru pulang haji sekitar dua puluh tahun yang lalu,
Haji Jamil berkunjung ke rumahnya. Pada kesempatan itulah Haji Jamil menasihati
dan menganjurkan Haji Syiah menurunkan poster Sang Ayatullah.
“Ngapain ente pasang tu gambar? Die kan Syiah, beda
ame kite,” itu yang dikatakan Haji Jamil sambil menunjuk poster Ayatullah
Khomeini.
“Kagak ape-ape beda, ane demen aje ngeliat
romannye,” Haji Syiah menjawab dengan tenang.
Maka sangat mungkin dari mulut Haji Jamillah
panggilan Haji Syiah pertama kali berembus. Kemudian julukan itu menyebar ke
seluruh penduduk kampung, dari mulut warga yang satu ke telinga warga yang
lain. Meski tak ada orang yang berani memanggil “Haji Syiah” di hadapannya,
tapi Sang Haji bukannya tak tahu di belakang dirinya orang-orang memanggil
dengan cara demikian. Dan ia tak merasa keberatan.
Haji Syiah hanya hidup berdua dengan Nyak Mun,
istrinya.Berdua, sudah lebih dari empat puluh tahun mereka dengan sabar dan
ikhlas mengarungi lautan sepi kehidupan. Pada lima hingga sepuluh tahun pertama
perkawinannya, mereka––terutama Haji Syiah––masih berharap hadirnya seorang
anak (ia memimpikan anak lelaki) yang akan meramaikan suasana rumah. Namun,
pada tahun-tahun selanjutnya, perlahan mereka mengubur mimpi itu, makin lama
makin dalam.Entah pada tahun perkawinan yang ke berapa, akhirnya mereka
menerima kenyataan sebagai pasangan suami-istri yang tak dikarunia anak.
“Tuhan kagak kasi,” selalu begitu jawaban Haji
Syiah setiap kali ada yang bertanya berapa jumlah anaknya.Haji Syiah memang
telah dengan ikhlas menerima takdirnya, tapi jauh di hati kecilnya, benih
keinginan mempunyai keturunan tampaknya tak benar-benar mati terkubur.Benih itu
tumbuh dan muncul dalam bentuk kecintaan kepada anak muda.Di tengah-tengah
obrolan di majelis taklimnya, beberapa kali Haji Syiah pernah berkata, “Kalau
dulu Tuhan kasi, udeh seumuran ente kali anak ane.”
Haji Syiah seperti melihat bayang-bayang anak
lelaki impiannya pada anak-anak muda itu, yang mabuk sekalipun. Bahkan kepada
yang mabuklah Haji Syiah makin merasa sayang.Ia memandang Faruk dan Ketel
dengan mata kasih orangtua terhadap anaknya. Dengan cara sehalus mungkin, ia
berusaha menarik kedua anak muda itu dari kubangan khomer, minuman
keras yang menurutnya bisa merusak kesehatan dan masa depan mereka.
“Ente kalau minum yang kire-kire, jangan kelewatan.
Kalau minum kagak pake takeran, ape enaknye? Lagian, mau sampe kapan ente
begini? Tuhan sih kagak rugi ape-ape ente mau mabok saban hari, yang rugi ente
sendiri, badan ente ancur, pikiran kusut. Ente musti pikirin masa depan ente,”
nasihat Haji Syiah suatu kali.
Berbilang bulan setelah nasihat itu disampaikan,
Faruk dan Ketel tetap datang ke rumah Haji Syiah dalam keadaan sempoyongan.
Namun, benar belaka apa yang sering dikatakan orang, hidayah dari Tuhan bisa datang
dengan cepat dan dari arah tak terduga. Siapa sangka, secepat itu Faruk dan
Ketel berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Hanya sekitar tujuh bulan
setelah berpamitan kepada Haji Syiah hendak bekerja mengelola warnet milik
Ustad Jaiz di Pandeglang, Faruk dan Ketel muncul kembali di kampung ini dengan
penampilan berbeda.Mereka mengenakan kemeja lengan panjang, celana panjang
sebatas mata kaki, dan ada tanda hitam di jidatnya, tanda sering bersujud.Kumis
mereka dicukur habis, sementara janggutnya dibiarkan tak tercukur.
Menurut kabar yang beredar di antara warga, selama
di Pandeglang mereka giat mengikuti pengajian di pondok pesantren Ustad Jaiz,
tak jauh dari warnet yang mereka kelola. Ustad Jaiz, yang masih terhitung
sepupu dengan Faruk itu, membangun pondok pesantren dan beberapa unit usaha
seperti warnet dan agen beras di Pandeglang sekitar setahun yang lalu, saat ia
baru saja pulang setelah menyelesaikan kuliah ilmu syariah di Mekah. Kabarnya,
beberapa hari lagi Faruk dan Ketel akan kembali ke Pandeglang untuk mengikuti
program pesantren intensif selama enam bulan, sebelum keberangkatan mereka ke
Mekah. Di kota suci itu––dengan beasiswa yang diperoleh lantaran hubungan baik
Ustad Jaiz dengan sebuah lembaga dakwah di Arab Saudi––mereka akan memperdalam
ilmu agama.
Tentu saja Haji Syiah gembira mendengar berita
itu.Ia ingin sekali bertemu Faruk dan Ketel. Sudah lebih dari seminggu ia
mendengar kedua anak muda itu pulang dari Pandeglang, tapi mereka belum juga
datang berkunjung ke rumahnya. Haji Syiah akhirnya memang bertemu Faruk dan
Ketel pada suatu sore, tepat sepuluh hari setelah kedatangan mereka. Secara tak
sengaja, Haji Syiah berpapasan dengan mereka di depan toko kelontong Yong Put.
Awalnya ia sempat tak mengenali, hanya setelah mata mereka bersitatap selama
dua atau tiga detik, dengan gembira Haji Syiah berteriak,“Faruk! Ketel!”
Para pemilik nama itu tak menyahut. Mereka
memalingkan muka dan meneruskan perjalanannya, segera setelah salah seorang
dari mereka, yaitu si Faruk, sempat menyemburkan ludah ke tanah. Haji Syiah
terdiam seribu bahasa. Ia menghentikan langkahnya selama beberapa masa, menatap
punggung mereka hingga menghilang dari pandangan. Seribu pertanyaan berpusar di
benaknya, ia tak mengerti ada apa dengan ini semua.
Seribu tanya itu masih terus berpusar hingga malam
tiba, saat ia duduk sendirian di balai-balai di teras rumahnya. Mengapa Faruk
dan Ketel berbuat demikian terhadap dirinya?Apakah karena sekarang mereka
merasa terlahir kembali sebagai orang suci dan karenanya merasa jijik dengan
masa lalunya yang penuh najis? Atau ada sebab lain? Haji Syiah tak menemukan
jawaban apa-apa.
Tiba-tiba Haji Syiah merasa begitu lelah. Ia
sandarkan kepalanya ke dinding, kedua matanya ia pejamkan. Saat membuka matanya
kembali selang beberapa menit kemudian, samar-samar Haji Syiah seperti melihat
Faruk dan Ketel membuka pagar halaman, berjalan sempoyongan melintasi
pekarangan rumahnya. Haji Syiah mengusap mata. Malam begitu sepi.Angin berembus
cukup kencang, merundukkan sebatang pohon belimbing yang tumbuh di situ. (*)
Sabtu, 01 Desember 2012
The Sember!
24 jam yang lalu gua menikmati akhir bulan bernama November. Sekarang gua bakalan juga siap melewati bulan terakhir di tahun 2012. Desember.
Ini bulan yang menurut hemat gua merupakan bulan penuh misteri. Entah misteri bakalan datangnya kiamat lah, entah misteri tentang nilai-nilai gua selama di kampus, misteri tentang hadirnya Santa Klaus (Gua orang muslim tapi gpp dong!), dan juga misteri tentang perjuangan Timnas Indonesia di kancah AFF 2012 yang akan ditentukan malam nanti saat menghadapi saudara tirinya, Malaysia. Dari cerita itu semua, sebenernya ada sebuah momen buat mereka. Siapa mereka? Ya mereka yang menggidap AIDS. Sebuah penyakit yang diawali dari sebuah virus bernama Human Immunodeficiency Virus (disingkat HIV).
Tepat tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari dimana semua pengidap penyakit ini dirayakan. Tidak ada perayaan hari flu babi sedunia, atau tidak ada perayaan hari sakit kepala sebelah (migran). Yang gua tau selama ini cuma penyakit AIDS doang yang selalu dirayakan (Kalo ada yang lebih tahu tentang hari perayaan penyakit lainnya mohon dikoreksi dan dimaklumi).
Selain hari AIDS sedunia yang dirayakan hari ini, ada juga hari yang paling menentukan.
Yap, dalam beberapa jam kedepan nasib timnas Indonesia bakal ditentuin. Entah lolos atau tidak, gua pribadi bangga sebagai orang Indonesia. Karena cuma sepakbola-lah yang bisa membuat gua mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Mungkin lebay, atau mungkin kalian semua seperti gua. Tapi emang bener. Gimana enggak, tempo hari, kalo ga salah hari Rabu, kebetulan gua nobar (nonton bareng) di kampus gua UNJ. Di situ gua teriak-teriak kayak orang kesetanan. Tapi yang teriak-teriak ga cuma gua doang, semua yang nonton juga pada teriak-teriak. Apa ini semua yang nonton juga kesetanan? terserah apa persepsi kalian, tapi emang cuma sepakbola yang menurut gua bisa menyatukan masyarakat nusantara (INDONESIA), cuma sepakbola yang bisa menciptakan jiwa nasionalisme, cuma sepakbola yang menurut gua bisa buat cuci mata, karena pembawa acara kuisnya bohay banget (lho?!).
Terserah apa interpretasi kalian semua. Yang jelas, mari kita dukung negara kita demi kemajuan bangsa ini (Aseek!). Gua pengen mengutip kata-katanya Andik Vermansyah yang punya pacar anak SMA. Cakep banget cewenya. Sumpah!!!. Begini kutipannya:
"Anda boleh membenci PSSI/KPSI, tapi jangan membenci timnas karena kami mengharapkan doa dan dukungan kalian masyarakat Indonesia" - Andik Vermansyah
Oke, gua kira kutipan terakhir tadi cukup buat postingan gua kali ini. Inget! INI BUKAN CURHAT, HANYA SEKADAR BERCERITA!
Wassalam!
Ini bulan yang menurut hemat gua merupakan bulan penuh misteri. Entah misteri bakalan datangnya kiamat lah, entah misteri tentang nilai-nilai gua selama di kampus, misteri tentang hadirnya Santa Klaus (Gua orang muslim tapi gpp dong!), dan juga misteri tentang perjuangan Timnas Indonesia di kancah AFF 2012 yang akan ditentukan malam nanti saat menghadapi saudara tirinya, Malaysia. Dari cerita itu semua, sebenernya ada sebuah momen buat mereka. Siapa mereka? Ya mereka yang menggidap AIDS. Sebuah penyakit yang diawali dari sebuah virus bernama Human Immunodeficiency Virus (disingkat HIV).
Tepat tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari dimana semua pengidap penyakit ini dirayakan. Tidak ada perayaan hari flu babi sedunia, atau tidak ada perayaan hari sakit kepala sebelah (migran). Yang gua tau selama ini cuma penyakit AIDS doang yang selalu dirayakan (Kalo ada yang lebih tahu tentang hari perayaan penyakit lainnya mohon dikoreksi dan dimaklumi).
Selain hari AIDS sedunia yang dirayakan hari ini, ada juga hari yang paling menentukan.
Yap, dalam beberapa jam kedepan nasib timnas Indonesia bakal ditentuin. Entah lolos atau tidak, gua pribadi bangga sebagai orang Indonesia. Karena cuma sepakbola-lah yang bisa membuat gua mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Mungkin lebay, atau mungkin kalian semua seperti gua. Tapi emang bener. Gimana enggak, tempo hari, kalo ga salah hari Rabu, kebetulan gua nobar (nonton bareng) di kampus gua UNJ. Di situ gua teriak-teriak kayak orang kesetanan. Tapi yang teriak-teriak ga cuma gua doang, semua yang nonton juga pada teriak-teriak. Apa ini semua yang nonton juga kesetanan? terserah apa persepsi kalian, tapi emang cuma sepakbola yang menurut gua bisa menyatukan masyarakat nusantara (INDONESIA), cuma sepakbola yang bisa menciptakan jiwa nasionalisme, cuma sepakbola yang menurut gua bisa buat cuci mata, karena pembawa acara kuisnya bohay banget (lho?!).
Terserah apa interpretasi kalian semua. Yang jelas, mari kita dukung negara kita demi kemajuan bangsa ini (Aseek!). Gua pengen mengutip kata-katanya Andik Vermansyah yang punya pacar anak SMA. Cakep banget cewenya. Sumpah!!!. Begini kutipannya:
"Anda boleh membenci PSSI/KPSI, tapi jangan membenci timnas karena kami mengharapkan doa dan dukungan kalian masyarakat Indonesia" - Andik Vermansyah
Oke, gua kira kutipan terakhir tadi cukup buat postingan gua kali ini. Inget! INI BUKAN CURHAT, HANYA SEKADAR BERCERITA!
Wassalam!
Kamis, 22 November 2012
ASUMSI MENJENGKELKAN
Qotir merebahkan
tubuhnya yang hanya berbobot 60 kg ke atas kasur berselimutkan sprei berwarna
putih dengan garis abu-abu. Warna sprei itu mengingatkan Qotir kembali ke masa
lalunya bersama Lela, mengenang masa-masa indahnya menjalin hubungan di usia
labil berpakaian seragam putih abu-abu. Qotir hanya tersenyum kecil. Pandangan
ke arah langit-langit rumahnya seakan memberikan arti tersendiri. Seekor cicak
yang kebetulan berada di tempat kejadian memasang wajah tanpa ekspresi . Ia
bertanya-tanya jauh di dalam hatinya
yang lebih kecil dari tubuhnya. “Apa yang ada dalam benak makhluk raksasa yang
memandangi dirinya itu?”. Ternyata cicak itu baru sadar bahwa ia dalam keadaan
tanpa busana. Cicak itu pun lari menuju ruangan lain selain ruangan kamar Qotir.
Sementara itu, Qotir masih tersenyum-senyum tanpa makna
Menjadi pasangan
yang setia merupakan impian setiap pasangan.Baik laki-laki atau wanita, baik
jantan atau betina, baik manusia atau hewan.Walaupun menurut Qotir, hanya
buayalah satu-satunya hewan yang paling setia. Itu di karenakan Qotir sering
melihat roti berbentuk buaya dalam
acara-acara pernikahan di keluarga besarnya. Kakek Qotir, Engkong Ali,
mengatakan bahwa lambang hewan buaya dalam media roti menunjukan kesungguhan
setiap pasangan dalam menjalin hubungan resmi di mata Tuhan. Itulah yang ingin
Qotir tunjukan. MENJADI PASANGAN YANG SETIA. Tetapi kini, kesetiaan itu
diambang krisis-krisis. Baik krisis kepercayaan, krisis akan suatu curiga, atau
bahkan krisis ingin mendua.
“Tir,Qotir,
makan malem dulu nyok! Nih emak udah masakin gulai kambing nih!” Teriak Bunaya,
Emak Qotir, dengan suara persis seperti bintang film zaman dahulu, Mpok Nori,
atau lebih tepatnya Emak Nori.
“Iye nyak!, ga
usah pake teriak juga kali, ntar putus tu pita suaranye !” Jawab Qotir yang
sedang menutup pintu kamarnya hendak menuju meja makan yang berada di
tengah-tengah ruang keluarga
“Elu nyumpahin
pita suare emak lu sendiri putus Tir? Durhake elu!”
Qotir hanya
diam. Kesunyian datang menghampiri seisi ruangan sejenak untuk menghangatkan
suasana makan malam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut pemuda kurus
berambut jarang itu. Qotir yang memasang muka muram langsung melahap santapan
yang ada di depannya. Nasi putih dengan lauk gulai kambing yang diatasnya
ditaburi bawang goreng tidak membuat Qotir merasa baikan. Tampang Qotir tetap
pada tahap awal ia duduk di kursinya. Bunaya sempat heran dengan sikap anak
sulungnya. Perasaan Bunaya, ia tidak membubui masakannya dengan serbuk yang ada
dalam pil, kapsul atau semacamnya yang bisa membuat orang terlihat ingin jatuh
pingsan. Sudah dari lima hari yang lalu, Bunaya melihat tampang Qotir seperti
ini, tidak biasanya Qotir bermuram durja lebih dari sehari. Tampang Qotir yang
terlihat bagaikan buruh yang baru saja di pecat oleh atasannya karena alasan tertentu,
membuat Bunaya ingin tahu apa sebab musabab Qotir terlihat seperti ini.
“Lu lagi ga enak
badan tir?” Tanya Bunaya sambil memegangi kening Qotir dengan membalikkan kedua
telapak tangannya.
“Aye kaga nape-nape
nyak, udah nyak ah Qotir pan lagi makan!”Qotir menjawab sambil menguyah nasi
yang masih berada dalam mulutnya.
“Nyak cuman mau
nge-cek doang barangkali lu kenape-nape, soalnya dari seminggu kemaren mukelu begitu mulu!. Nyak
khawatir ame lu. Ade perkare ape sih?” Bunaya kembali bertanya sambil
membetulkan posisi duduknya kearah yang lebih serius demi mendengarkan
penjelasan anak tercintanya.
“Kaga ade
ape-ape nyak, kaga ada yang perlu di khawatirin, Qotir baek-baek kok!”
“iye, iye nyak
tau lu baek-baek, badan lu sehat, tapi tampang lu itu tir. Ade ape sih tir? Hmmm….
Masalah lagi ye ama Lela?” Seperti seorang peramal ulung, Bunaya langsung bisa
menebak akar masalah yang ada dalam pikiran Qotir, meskipun ia melakukannya
secara tidak sengaja. Suasana tegang sesaat. Dua ikan Mas Koki yang berada di
dalam akuarium belakang meja makan mereka berdua, menahan nafasnya sambil
memandangi dua manusia yang berada di alam daratan dengan mata melotot dan
mulutnya yang tidak bisa diam, membuka dan menutup. Mereka tidak sabar menunggu
apa jawaban yang akan di lontarkan Qotir kepada Sang Peramal Ulung, Bunaya, emaknya
sendiri.
Qotir sedikit
terkejut sehingga ia menghentikan kunyahannya yang kesekian.Tapi suasana
kembali tenang, atau lebih nyatanya suasana tegang. Qotir tidak habis pikir, emaknya yang sudah
berusia kepala tiga itu bisa menebak
asal muasal kenapa ia memasang muka muram dari lima hari yang lalu.
Mendengar jawaban emaknya yang sedikit mengejutkan satu ruangan keluarga yang
pada momen itu hanya dihuni dua manusia, Ibu dan anak, Qotir sebagai pemegang
peran anak, tidak menjawab sepatah kata. Ia lebih memilih bungkam soal Lela,
apalagi kalau harus menceritakan kepada emaknya. Pasti nasihatnya, “Tenang,
jodoh ga bakalan kemana” atau seperti ini, “Cinta itu tidak memandang jarak,
ruang, rupa, bahkan kedudukan.”Tetapi dengan aksen Betawi pinggiran, dan seperti
biasa, nada ala Emak Nori
Sudah banyak
cerita tentang kekasih Qotir yang satu ini. Lela, anak tunggal dari seorang
ketua RW 08 Kampung Situ, Bapak Dayat, tidak lebih dari gadis seperti
gadis-gadis yang lainnya. Perempuan berdarah sunda-betawi ini mulai memancarkan
sinar kecantikannya ketika ia berusia 15 tahun, atau ketika ia mulai memasuki
masa-masa SMA. Para lelaki di kampungnya, mulai dari yang berhidung normal
sampai yang berhidung belang, dari yang berusia sebaya dengannya sampai yang
sudah berusia sama dengan usia NKRI, telah dipikat oleh kemolekan dan
kecantikan gadis Bapak Rukun Warga Kampung Situ ini. Ayahnya, yang dulu hanya
bekerja sebagai wiraswasta yang berpenghasilan tidak tetap, ikut merasakan
manfaatnya mempunyai gadis belia yang cantik nan jelita seperti Lela.
Popularitasnya sebagai warga Kampung Situ dari hari ke hari makin meningkat,
seperti data statistik kemiskinan di suatu negara antah berantah bernama
Indonesia. Pada pagi hari, siang hari, atau malam hari, ada saja orang yang
bertamu kerumahnya hanya demi bertemu dengan anaknya, Lela. Mereka bahkan ada
yang membawa bingkisan seperti kue-padahal bukan suasana lebaran-, sarung dari
Mekah,-bagi mereka yang baru pulang umroh atau haji-, dan sebagainya yang tidak
bisa di sebutkan karena barang-barang tersebut dijual kembali oleh ayahnya yang
berjiwa entrepreneurship sejati.
Bahkan pada suatu hari, ketika ketua RW yang lama sudah hampir habis masa
jabatannya karena umurnya yang sudah terlalu kematangan, banyak warga-terutama
para lelaki-, yang mencalonkan Bapak Dayat sebagai ketua RW yang baru untuk
memimpin kampung mereka, Kampung Situ.
Tentu saja kalau ditanya apa alasan mereka semua mencalonkan Bapak Dayat
sebagai ketua RW yang baru, pasti semua warga -terutama yang laki-laki- kompak
mempunyai alasan yang sama.
Memasuki usia ke
17 tahun, tepat pada usia transisi antara remaja menuju dewasa, Lela mulai
dikenal seluruh kampung. Ia mulai dincar oleh banyak laki-laki kaya dari
kampung lain untuk dijadikan aset berharga. Semua berlomba-lomba mengisi
kekosongan hati Lela dengan cara apapun. Tetapi anehnya, dari sekian banyak
pemuda bahkan sampai yang dulunya dibilang pemuda, Lela hanya tertarik oleh
satu pemuda saja. Pemuda yang satu sekolah dengannya di SMAN Baru Jakarta, pemuda
dengan pembawaan cuek, easy going,
dan sedikit apatis itu berambut jarang alias botak. Sikap kritisnya akan
sesuatu telah merobek hatinya dalam pandangan yang berbeda. Meskipun tidak tampan seperti artis-artis
zaman sekarang, Lela berani bertaruh bahwa ia tidak salah berpacaran dengan pemuda
yang hanya mempunyai berat 60 kg dan tinggi 179 cm. Pemuda yang bernama lengkap
Muhammad Qotir Makjub lah yang telah merebut kesempatan para pemuda lainnya dan
para veteran dari kampung-kampung lain yang ingin sekali menjelajahi kecantikan
alam dari seseorang bernama Lela.
Peristiwa awal
dari perjalanan kekasih ini bisa di bilang hebat. Bahkan salah satu murid yang
pada saat itu menjadi saksi penembakan Lela oleh Qotir, Japra, akan
mengadaptasikannya dalam sebuah novel yang Insya Allah akan terjual habis atau best seller ketika di terbitkan. Qotir
memang telah menyukai Lela ketika mereka berdua satu kelas pada saat kelas 11.
Buat Qotir sendiri, menjadikan Lela sebagai pendampingnya akan membuat dirinya
terkenal satu sekolah. Walaupun ini bertentangan dengan perwatakannya yang
apatis itu. Tapi apa boleh buat, pedang sudah dicabut, Qotir tinggal menentukan
kearah mana ia akan menusukkan pedangnya agar Lela jatuh terkulai lemas di
hadapannya. Dan disinilah awal peristiwa hebat itu terjadi. Dengan gagah berani
bak seorang Spartan yang akan melawan ratusan tentara Persia, Qotir mulai
menunjukan sisi lain dari kelebihannya. Bermodalkan bunga mawar yang hampir
layu karena di beli dengan harga murah, Qotir mulai menancapkan pedang gaib di
hati Lela dan seraya berkata “neng, mau
ga jadi pacar abang? Ntar kalo neng nerima, abang janji bakalan setia deh!”.Satu
kelas terdiam menahan tawa, air mata jenaka siap turun menuju daratan yang
berlapisi keramik tanpa muara. Mereka semua tidak bersorak kegirangan.Tidak
terpikir dalam otak mereka, Qotir menembak Lela tanpa rayuan atau basa-basi,
langsung ke intinya. Seakan terhipnotis dengan kata-kata pemuda botak itu, Lela
hanya mengatakan satu kata,-dan aneh
jika di bayangkan oleh seisi kelas dengan 39 murid didalamnya-, “YA!”. Itulah jawaban Lela kepada Qotir -entah dalam
keadaan sadar atau tidak ia menjawabnya. Lama kelamaan Qotir mulai merasakan
keganjilan, Mengapa mereka semua hanya
diam saja?.Semua kelas hening cukup lama ketika Qotir melakukan aksi yang
bisa dibilang nekat. Sino, Buyung, Entin, dan Rozak menutup mulut mereka dengan
buku tulis yang ada di depan meja mereka masing-masing sambil bersuara kecil
mencoba menahan tawa yang ingin keluar penasaran. Kodir bisa di bilang paling
parah.Belum sempat Lela menjawab pertanyaan isi hati Qotir, anak tukang siomay
itu sudah tertawa lepas dengan mulut menganga yang didalamnya terdapat sekitar
dua puluh gigi yang letaknya tidak beraturan. Setelah kelas cukup lama sunyi
akibat insiden langka tersebut, beberapa menit kemudian seisi kelas bersorak dan berteriak. Salah seorang murid ada yang
melemparkan buku mereka ke atas, ada juga yang menaiki meja sambil bereteriak “Amazing Qotir, Capucinno buatanmu, Numero Uno” . Entah
aksen apa yang dipakai oleh anak
tersebut tetapi kini
Qotir puas dan lega, sekarang ia tinggal menikmati hasil jerih payahnya.
Memang hubungan
Qotir dan Lela tidak selalu berjalan dengan apa yang mereka berdua harapkan
-terutama bagi Lela yang menganggap Qotir sebagai pria yang berbeda dari yang
lainnya-, ada saja gunjingan dari pihak sana sini, terutama gunjingan soal Lela
yang notabennya selalu diinginkan setiap laki-laki. Bahkan ada suatu sindiran ketika
mereka sedang berjalan pagi mengelilingi Komplek Senayan
“eh coy ada cewe
cakep tuh!” kata orang pertama dengan mata yang terpaku melihat Lela
“iye cakep, tapi
sayang ada monyetnya!”
Dengan spontan
Qotir menengok kebelakang dan menghampiri dua orang tersebut sambil memberinya
pelajaran dengan tangan kanannya yang mengepal penuh amarah.Keributan tidak
bisa dihindari.Tapi sayang, Qotir kurang beruntung dalam keributan itu. Lela
sebagai pacarnya, menenangkan Qotir dengan memberinya wejangan-wejangan, tapi
wejangan yang diberikan kepadanya, menurut Qotir sangat menggurui. Ini yang
tidak disukai oleh Qotir, Qotir sontak melepaskan kata-kata yang lebih dari
menggurui kepada Lela. Di sinilah awal mula krisis-krisis akan perpecahan itu
terjadi. Lela yang sangat amat mencintai Qotir hanya bisa diam, ia tidak mau
menyeret dirinya kedalam kubangan yang akan membuat hubungan mereka pecah. Tidak
hanya di tempat umum, di lingkungan sekolah pun, kedua pasangan ini selalu
dihantui gosip yang bergentayangan, anehnya gosip itu selalu menggentayangi
Lela, bukan Qotir.Wajah Lela yang masih cantik meski sudah mempunyai pacar
dengan wajah biasa saja, membuat para laki-laki di SMAN Baru Jakarta, sekarang berlomba-lomba
menjatuhkan Qotir demi memperbaiki citra Lela sebagai perempuan.
Kegeraman Qotir
hampir mencapai puncaknya, tapi ia tidak mau melepaskan Lela begitu saja,
tetapi ia juga tidak mau nama baiknya diinjak-injak hanya karena ia berhubungan
dengan Lela. Lela yang mendengar gosip itu, tidak peduli, rasa sayangnya masih
sepenuhnya kepada Qotir meski Qotir selalu menuduhnya dengan asumsi yang tak masuk
akal. Sekarang Qotir hanya sibuk dengan keapatisannya
sendiri. Hubungan mereka kini mulai diuji oleh Tuhan, atau oleh Syaitan. Dulu
-seminggu sekali- Qotir selalu mengajak Lela melakukan aktivitas bersama-sama. Baik
itu diskusi, belajar bersama, atau hanya sekedar nongkrong meminum secangkir
kopi. Tetapi kini aktivitas itu hanya menjadi sebuah cerita yang tidak pantas
lagi untuk di ceritakan. Qotir hanya sibuk dengan kesibukannya.Sifat cuek, easy going, dan apatisnya, membawanya jauh
kedalam jurang keambiguan.
Dua Tahun
menjalin hubungan bukan hal yang mudah , terutama bagi Qotir dan Lela. Sekarang
mereka berdua telah lulus dari SMA. Seperti
murid-murid lainnya,
Qotir dan Lela saling berjabat tangan sambil bertukar pandang. Pandangan yang
menurut Lela telah menyejukkan hatinya kembali setelah hampir 12 bulan tersesat
dalam pencarian jati diri Qotir, pasangannya. Pandangan yang juga telah
menghangatkan badan Qotir setelah sekian lama membeku dalam keapatisannya.
Ujian yang sesungguhnya akan terjadi di sini. Ketika Lela merencanakan kuliah
di luar Kota, tepatnya di Universitas Brawijaya, sedangkan Qotir yang lebih
memilih kuliah di Jakarta, tepatnya di Universitas Negeri Jakarta. Mereka
berdua seakan mengibarkan bendera perang kembali. Walaupun Lela berjanji bahwa
ia akan pulang ke Jakarta pada akhir Desember tetapi percecokan diantara
keduanya kini benar-benar tidak dapat di hindari. Jalan keluar
akhirnya sudah diambil. Musyawarah mufakat
telah disepakati. Lela senang akan keputusan Qotir yang terus melanjutkan
hubungan mereka -meskipun hubungan jarak jauh. Lela langsung memeluk Qotir
dengan erat. Qotir tidak bisa berkata apa-apa.Mulutnya seakan tertutup rapat di
retsletingi oleh bibirnya sendiri. Bisa dibilang ironis, karena ini pertama
kalinya mereka berpelukan selama 2 tahun berpacaran. Qotir segera melepaskan badannya
dari pelukan hangat Lela. Mereka berdua telah berjanji akan terus
mempertahankan hubungan ini, meskipun Qotir masih berat menerimanya. Sangat
Berat.
Suara motor
Satria F melaju kencang dari arah Universitas Islam Negeri Jakarta menuju Bogor. Angin
malam ikut melaju dengan membawa hawa dingin yang seakan menusuk kedalam tubuh hingga ke hati pengendara motor yang berjaket kulit
tersebut. Mobil ambulan dari arah berlawanan meluncur cepat dengan suara
sirenenya yang tiada henti, mencoba memberitahu pengendara lain bahwa akan ada
satu nyawa lagi yang akan melayang didalam
mobil itu.Dari dimensi lain, malaikat pencabut nyawa membututi dari belakang mobil ambulan, dengan jubah
serba hitam dan membawa tongkat, ia siap
melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya. Sementara itu, pemuda yang
membawa motor Satria F menambah kecepatan laju motornya, suasana sepi kota
Pamulang membawanya ke dalam lembah kesendirian menuju kota hujan, Bogor. Dari
dalam helm, raut wajah terlihat abstrak, marah, sedih, gelisah, bimbang, dan
rindu melanda dan menerpa wajah pemuda yang semakin menambah laju kecepatan
motornya.Sebelum berangkat, ternyata ia dalam keadaan hampir meledak, kepalanya
makin mengeras, tanganya mengepal tinju yang siap menghantam apa saja yang ada
di depannya. Kekasihnya yang berada di kota apel, Malang, ternyata sudah lupa
akan dirinya. Pesan, telepon, tidak pernah di jawabnya walau hanya satu kata.Ia
berasumsi bahwa kekasih jarak jauhnya kini telah asyik bersama pria lain yang
lebih mapan, tampan, dan intelek
daripada dirinya. Asumsi dari dirinya sendiri itu makin membuatnya geram
bercampur kangen.Geram ingin memukuli pria itu jika benar adanya, kangen ingin
memeluk kekasihnya yang telah lama jauh dari dirinya. Suara motor melaju makin
kencang, keramaian mulai terlihat di depan, tetapi hatinya masih sepi
sunyi. Suara hanphone berbunyi dibarengi
dengan getaran, ia kaget, sangat kaget, roda motornya
yang masih melaju kencang tidak mampu menahan rem yang telah ia tekan dengan
jemari tangan kanannya. Ban depan motornya berdecit, mengeluarkan sedikit bunyi
bahwa pertanda buruk akan terjadi, sedangkan ban belakang masih memutar
kencang. GUBRAKKKKK!. Pemuda itu terhempas ke tanah dengan helm yang
terlepas jauh dari kepalanya. Belum
sempat ia berteriak kesakitan, ia langsung tersungkur. Ia tak sadarkan diri
selama beberapa saat. Kemudian, dengan sisa tenaganya, ia langsung mengambil
handphone dari saku jaketnya. Matanya yang sipit akibat berbenturan dengan
aspal jalan masih melihat-lihat kearah layar handphonenya. Satu pesan dari seseorang
bernama Lela. ”Tir, aku sekarang udah di
Jakarta, kebetulan sekarang aku mau maen kerumah kamu. Mau curhat banyak tir.
Boleh ya?”. Pemuda itu kemudian menaruh handphonenya ke dalam sakunya kembali,
pesannya tidak ia balas. Selang beberapa menit, keramaian dan mobil ambulan datang menolong
pemuda malang yang hampir tidak terselematkan itu. Roda ambulan melaju pelan dibarengi
dengan sirene yang akan segera berbunyi pertanda bahwa akan ada satu nyawa lagi
yang tidak akan terselamatkan. Di dalam ambulan, pemuda itu berbaring dan
melihat samar-samar kekasihnya yang bernama Lela duduk disampingnya didampingi
pria asing berjubah hitam. Mobil ambulan pun pergi meninggalkan tempat
dibarengi khalayak yang masih ramai memperbincangkan kronologi kejadian itu.
Beberapa saat, Malam kota Pamulang kembali sunyi.
Minggu, 04 November 2012
Iseng #Part 2
Seperti biasa. Lagi tenangnya gua di depan PC kesayangan gua.Gua (Ortu gua deng) beli nih PC tahun -kalo ga salah- 2010. Yah sekitar tahun itulah. Oh iya ini hari Minggu. Bentar lagi ada EPL, dan yang maen itu LIVERPOOL men!!! Lawannya sekarang rada berat nih. The Magpies alias Newcastle United. Mangkanya nih gua siapin fisik buat tidur tengah malem ntar, Hehehe
Ngomong-ngomong nyiapin fisik buat nonton bola, sekarang gua juga lagi bikin tugas. Parah nih tugas numpuk banget. Ada fonologi, menyimak, membaca, filsafat, ama sejarah sastra. Tuh tugas Insya Allah bakalan gua kebut dan akan selesai sekitar dua hari (aseek). dan sekarang juga lagi siap-siap buat UTS pertama gua sebg mahasiswa.
Oke segitu aja kali yeee, gua ga mau banyak berkoar di sini. Masih banyak tugas yang kebengkalai noh. caoo ya. Wassalam!
Ngomong-ngomong nyiapin fisik buat nonton bola, sekarang gua juga lagi bikin tugas. Parah nih tugas numpuk banget. Ada fonologi, menyimak, membaca, filsafat, ama sejarah sastra. Tuh tugas Insya Allah bakalan gua kebut dan akan selesai sekitar dua hari (aseek). dan sekarang juga lagi siap-siap buat UTS pertama gua sebg mahasiswa.
Oke segitu aja kali yeee, gua ga mau banyak berkoar di sini. Masih banyak tugas yang kebengkalai noh. caoo ya. Wassalam!
Langganan:
Postingan (Atom)







